Showing posts with label Biologi. Show all posts
Showing posts with label Biologi. Show all posts


Srikaya
Annona squamosal

Nama umum
Indonesia:
Srikaya, sirkaya, sarikaya, atis
Inggris     :
Sugar Apple

Srikaya
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
 Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
  Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
      Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
        Sub Kelas: Magnoliidae
          Ordo: Magnoliales
            Famili: Annonaceae
              Genus:
Annona
                 Spesies: Annona squamosa L.

Kerabat Dekat
Cimarrona, Sirsak, Buah Nona, Manoa, Annona glabra
Deskripsi
Tumbuhan perdu, berumur panjang (perenial), tinggi 2 - 5 m. Akar tunggang. Batang berkayu, silindris, tegak, warna keabu-abuan, kulit tipis, permukaan kasar, percabangan simpodial, arah cabang miring ke atas. Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun berseling (alternate), warna hijau, bentuk memanjang (oblongus), panjang 6 - 17 cm, lebar 2,5 - 7,5 cm, helaian daun tipis kaku, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate), permukaan halus Bunga tunggal, muncul di ketiak daun dan ujung batang, bertangkai, kelopak tebal berwarna hijau kekuningan Buah semu, bulat mengerucut, warna hijau berbedak putih, 5 - 10 cm, permukaan buah benjol-benjol, dengan biji berbentuk kepingan kecil - berwarna hitam mengkilat, berbuah setelah berumur 3 - 5 tahun Perbanyaan Generatif (biji).

Sertakan Salah satu bagian tanaman, misalnya Daun :) 

Contoh Herbarium

by on September 24, 2012
Srikaya Annona squamosal Nama umum Indonesia: Srikaya, sirkaya, sarikaya, atis Inggris      : Sugar Appl...
Hewan
1. Sus scrofa : Babi liar di Eropa

2. Choeropsis liberiensis : Kuda Nil pigmi Afrika

3. Rhinocheros sondaicus : Badak ujung kulon

4. Cepra aegrasus : Kambing

5. Bos sondaicus : Banteng

6. Bos indicus : Sapi india

7. Canis lupus : Serigala eropa

8. Helarctos malayanus : Beruang madu

9. Felis leo : Macan afrika

10. Panthera tigris : Macan asia

11. Delphinus delphis : Lumba-lumba

12. Berardius bairdii : Paus berparuh raksasa

13. Nasalis larvatus : Bekantan kalimantan

14. Sympalangus syndactylus : Gibon/siamang

15. Pteropus sp : Kalong

16. Eptecicus sp : Kelelawar coklat

17. Marcopus cangaroo : kanguru australia

18. Thylogale bruijni : Kanguru irian

19. Ornithorhynchus anatinus : Platipus

20. Cygnus sp : Angsa

21. Dendrocigna javanica : Belibis

22. Leucopsar rothschildi : Jalak

23. Gracula religiosa : Beo

24. Paradisiea apoda : Cendrawasih

25. Pycnonotus aurigaster : Ketilang

26. Geopelia striata : Perkutut

27. Streptopelia chinensis : Tekukur

28. Columba livia : Merpati

29. Gallus gallus banleiva : Ayam hutan

30. Meghacephalon maleo : Maleo sulawesi utara

31. Meleagris gallopavo : Ayam turki

32. Struthio camelus : Burung unta

33. Crocodylus americanus : Buaya

34. Alligator sp : Buaya

35. Mabouya multifasciata : Kadal

36. Chameleon chameleon : Bunglon

37. Varamus komodoensis : Komodo

38. Lampropeltis bovlii : Ular belang

39. Naya tripudont : Ular kobra

40. Python molurus : Ular sawah

41. Sphenodon punctatum : Tuatara

42. Chelonia mydas : Penyu hijau

43. Chelonia imbricata : Penyu besar

44. Rana sp : Katak

45. Polypedates leucomystax : Katak pohon

46. Bufo marinus : Katak besar

47. Cryptobranchus : Salamander di sungai

48. Hynobius : Salamander daratan asia

49. Hippocampus kuda : Kuda laut

50. Clarias batrachus : Ikan lele

51. Cyprinus carpio : Ikan mas

52. Chanos chanos : Ikan bandeng

53. Channa striata : Ikan gabus

54. Osphronemus gouramy : Gurami

55. Oreochromis mossambicus : Ikan mujair

56. Lutjanus argentimaculatus : Ikan kakap merah

57. Spyrna tudes : Hiu martil

58. Dasyatis sabina : Ikan pari

59. Squalus achantias : Hiu berkepala anjing

60. Bubalus quarlesi : Anoa

61. Euplectella : Pena laut

62. Physalia pelagica : Ubur-ubur api

63. Aurelia aurita : Ubur-ubur

64. Metridium marginatum : Mawar laut

65. Tubifora musica : Karang suling

66. Fasciola hepatica : Cacing hati

67. Taenia saginata : Cacing pita

68. Ascarisa lumbricoides : Cacing perut manusia

69. Enterobius vermicularis : Cacing kremi

70. Loa loa : Cacing mata pada manusia

71. Lumbriscus terrestris : Cacing tanah di eropa

72. Tubifex sp : Cacing air tawar

73. Hirudo medicinalis : Lintah air tawar

74. Haemadipsa javanica : Pacet di darat

75. Achatina fulica : Bekicot

76. Limnea javanica : Siput air tawar

77. Loligo pealii : Cumi-cumi

78. Sepia oficinalis : Sotong

79. Octopus vulgaris : Gurita

80. Octopus bairdii : Gurita merah

81. Pinctada margaritifera : Tiram mutiara

82. Pepanus sp : Udang windu

83. Panulirus argus : Lobster/udang besar

84. Portunus sexdentatus : Kepiting

85. Birgus latro : Ketam kenari

86. Paratelphusa maculata : Yuyu

87. Heteropoda venatoria : Laba-laba pemburu

88. Loxosceles reclusa : Laba-laba beracun

89. Lepisma : Kutu buku

90. Archotermopsis : Rayap/laron

91. Anax imperator : Sibar-sibar raja

92. Cimex : Kutu busuk

93. Leptocorisa acuta : Walang sangit

94. Drosophila melanogaster : Lalat buah

95. Periplaneta americana : Kecoak

96. Acheta domestica : Jengkrik

97. Musca domestica : Lalat rumah

98. Pteroptyx malacca : Kunang-kunang

99. Monomorium monomorium : Semut

100. Apis indica : Lebah madu


Tumbuhan
1. Pinus mercusii : Pinus

2. Gnetum gnemon : Belinjo

3. Casuarina equisetifolia : Cemara

4. Ficus benjamina : Beringin

5. Artocarpus integra : Nangka

6. Artocarpus communis : Sukun

7. Artocarpus champeden : Cempedak

8. Piper nigrum : Lada

9. Piper betle : Sirih

10. Ricinus communis : Jarak

11. Cananga odorata : Kenanga

12. Annona muricata : Sirsak

13. Annona squamosa : Srikaya

14. Nymphaea lotus : Teratai

15. Nelumbo nucifera : Lotus

16. Raflesia arnoldi : Bunga bangkai

17. Bryophyllum crenata : Cocor bebek

18. Rosa damascena : Mawar

19. Pyrus malus : Apel

20. Pyrus communis : Pir

21. Prunus americana : Abricos

22. Prunus cerasus : Ceri

23. Fragaria vesca : Arbei

24. Mimosa pudica : Putri malu

25. Leucaena glauca : Lamtoro

26. Pitcellobium lobatum : Jengkol

27. Soja max : Kedelai

28. Phaseolus radiatus : Kacang hijau

29. Phaseolus vulgaris : Buncis

30. Pisum sativum : Kapri

31. Myrtus communis : Penghasil mirtol

32. Eugenia aromatica : Cengkeh

33. Eugenia malacensis : Jambu air.

34. Psidium guajava : Jambu biji

35. Carica papaya : Pepaya

36. Camellia sinensis : The cina

37. Ceiba pentandra : Kapuk randu

38. Durio zibethinus : Durian

39. Gossypium herbaceum : Kapas

40. Hibiscus tiliaceus :Waru

41. Hibiscus rosa-sinensis : Kembang sepatu

42. Averrhoe carambola : Belimbing lingir

43. Averrhoe bilimbi : Belimbing wuluh

44. Cucurbita muschata : Waluh

45. Lagenaria leuchanta : Labu air

46. Luffa acutangula : Ceme,oyong

47. Citrullus sativus : Semangka

48. Citrus sp : Jeruk

49. Solanum tuberosum : Kentang

50. Solanum melongena : Terung

51. Capsicum annuum : Cabai

52. Ipomea batatas : Ketela rambat

53. Ipomea reptans : Kangkung

54. Coleus tuberosum : Kentang hitam

55. Ocimum basilicum : Kemangi

56. Hydrilla verticillata : Tumbuhan kolam

57. Ananas sativus : Nanas

58. Allium ascalonicum : Bawang merah

59. Allium sativum : Bawang putih

60. Aloe vera : Lidah buaya

61. Pleomele angustifolia : Daun suji

62. Cyperus rotundus : Rumput teki

63. Cumbopogon nardus : Sereh

64. Saccharum oficinarum : Tebu

65. Oryza sativa : Padi

66. Triticum aestivum : Gandum

67. Zea mays : Jagung

68. Musa paradisiaca : Pisang

69. Alpinia galaga : Laos

70. Curcuma domestica : Kunyit

71. Zingiber oficinale : Jahe

72. Canna indica : Bunga tasbih

73. Dendrobium crumenatum : Anggrek merpati

74. Phalaenopsis amabilis : Anggrek bulan

75. Areca catechu : Pinang

76. Arenga pinnata : Aren

77. Cocos nucifera : Kelapa

78. Elaeis guinensis : Kelapa sawit

79. Phoenix dactilyfera : Kurma

80. Anthurium crystallinum : Kuping gajah

81. Colocasia esculenta : Keladi/talas

82. Bromelia pingiun : Penghasil serabut

83. Mimosa invisa : Putri kejut

84. Codieum variegatum : Puring

85. Hevea brasiliensis : Penghasil karet

86. Sauropus androgynus : Katu

87. Ficus religiosa : Pohon bodi

88. Ficus glomerata : Pohon lo

89. Castiloa elastica : Penghasil karet

90. Casuarina junghuhniana : Cemara

91. Pinus silvestris : Pinus

92. Equisetum debile : Paku ekor kuda

93. Selaginella wildenowii : Paku rane

94. Lycopodium clavatum : Paku kawat

95. Marsilea crenata : Paku semanggi

96. Alsophila glauca : Paku tiang

97. Asplenium nidus : Paku sarang burung

98. Adiantum cuneatum : Suplir

99. Salvinia natans : Paku sampan

100. Platycerium bifurcatum : Paku tanduk rusa

Update

101. Panax : Ginseng

Fosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1979).
Setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995). 
Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas.
Setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995).

Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas.

Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam intensitas cahaya yang tinggi tetapi beberapa spesies tidak. (Suhardi et al, 1995)

Sebagian dari jenis-jenis dipterocarpaceae terutama untuk jenis kayu yang mempunyai berat jenis tinggi atau tenggelam dalam air atau sebagian lagi tergolong jenis semi toleran atau gap appertunist yaitu jenis-jenis yang memiliki kayu terapung atau berat jenis rendah.

Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhannya di waktu muda (tingkat anakan) berkisar antara 50 – 85 % dari cahaya total. Untuk jenis-jenis semitoleran naungan untuk anakan diperlukan sampai umur 3 – 4 tahun atau sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 3 meter. Sedangkan untuk jenis-jenis toleran lebih lama lagi yaitu 5 – 8 tahun. Sangat sedikit jenis yang tergolong intoleran antara lain Shorea concorta (Rasyid H. A. dkk, 1991).

Suhardi (1995) mengemukakan Hopea gregaria yang termasuk dalam jenis Dipterocarpaceae, di tempat penuh memberikan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat cahaya masuk sebahagian. Dibandingkan dengan lama penyinaran dan jenis cahaya, intensitas cahaya merupakan faktor yang paling berperan terhadap kecepatan berjalannya fotosintesis.

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa sampai intensitas 10.000 lux, grafik kecepatan fotosintesis bergerak linear positif. Data penelitian tersebut adalah untuk tanaman dewasa, sedangkan untuk tanaman muda (tingkat semai-sapihan) belum diperoleh data. Selain itu, penelitian mengenai kekhususan sifat akan kebutuhan cahaya pada jenis-jenis tanaman tertentu juga belum dikerjakan. Pengurangan intensitas sinar sampai 60% berpengaruh positif nyata terhadap pertumbuhan awal tinggi dan diameter semai kapur.

Menurut Rasyid H.A dkk (1991) Penanaman jenis Diperocarpaceae di lapangan terbuka harus mempergunakan peneduh. Jenis tanaman peneduh yang dapat digunakan antara lain Albizia falcataria (Sengon) atau jenis lain yang memiliki tajuk ringan dan memiliki persyaratan tempat tumbuh yang sama dengan jenis Dipterocarpaceae yang akan ditanam ditempat tersebut. Pada umumnya anakan meranti khususnya pada tingkat seedling kurang tahan terhadap defisit air tanah, kecuali anakan Shorea leprosula. Pada tempat terbuka kondisi permudaan semai umumnya berdaun kecil dan lemah. Pada bagian hutan yang bercelah lebar umumnya banyak dijumpai tumbuh pancang dan tiang. Permudaan tingkat semai dari jenis-jenis meranti ringan umumnya kurang tahan terhadap naungan berat, kecuali permudaan dari jenis-jenis meranti berat/tenggelam.